Wednesday, 15 February 2017

Kecopetan

Memang ibukota dimana-mana sama saja.

Sudah cukup sering juga sih aku mendengar kasus orang kecopetan di Copenhagen. dan alhamdulillah hari ini aku merasakannya.

Baru kemarin persis aku diingetin sama orang KBRI untuk berhati2 di Milan dan Roma nanti kalau kesana karena banyak copet, lha kok hari ini abis dari Konsular Itali aku malah kecopetan.

Jadi ceritanya, berangkat dari rumah udah agak siang, mau langsung ke konsuler Itali. Dari terakhir hujan salju, aku masih pakai raincoat untuk tas aku. Tapi hari ini cuaca cerah sekali. Aku pikir, aneh kali ya kalau pakai rain coat terus. Jadi raincoatnya aku buka, masukin ke tas. Berangkatlah aku ke konsuler Italy naik bus.

Teng teng teng... urusan di konsuler Itali beres, lancar. Aku langsung menuju kampus. Dari Strøget aku jalan kaki ke stasiun metro Kongen Ny Torv. Naik metro menuju Forum. Turun di Forum, aku keluar lewat jalan bawah tanah yang tembus Rema. Di pintu, papasan sama 2 laki-laki. Entah. Naik tangga. Sampai depan Rema 1000, ada mbak-mbak naik sepeda dari arah berlawanan, manggil, "mbak, ada yang jatuh tuh" (pakai bahasa yang ku tak mengerti, tapi dia nunjuk sesuatu di belakangku). Aku nengok dan melihat ada dompet aku jatuh. "Thank you", ku bilang ke mbaknya.

Aku ambil dompetku, kartu lengkap. Cash kosong. Tas kebuka. Laptop aman. Ku ingat-ingat.. sepertinya aku punya cash sekitar 3000 dkk (hasil penjualan 2 sepeda dan beberapa orang yang bayar hutang dalam cash) dan 25 euro (yang dulu dikasih ayah). Alhamdulillah, Allah mengingatkan aku untuk lebih berhati hati lagi. Padahal baru minggu lalu juga aku mendapati sepedaku yang satu hilang dari basement. Rejeki rejeki.. Untung bukan punyaku.. Hanya titipan Allah.. Semoga yang nyopet dan ngambil sepedaku memang membutuhkan dan tidak digunakan untuk maksiat. Aamiin..

Pelajaran yang dapat diambil hari ini adalah lebih baik pakai raincoat untuk mengamankan tas dari pada kecopetan. Lebih baik kelihatan gak trendi daripada kehilangan 3000dkk. Apalagi sekarang aku bepergian dengan kendaraan umum, gak naik sepeda lagi.

Semoga Allah selalu melindungiku dan keluargaku. Aamiin.. YRA..

Friday, 10 February 2017

Zona nyaman

Aku akui memang mungkin aku terlihat seperti berada di dalam zona nyaman. Bagaimana tidak. Aku tidak direpoti harus mengurus rumah, suami dan anak. Semua sudah ada yang ngurus. Aku hanya harus fokus pada diri sendiri. Menikmati me time selama 3 tahun yang mungkin banyak diidam2kan banyak ibu-ibu yang tengah jungkir balik mengurus urusan rumah tangga yang ga pernah ada habisnya, urusan anak yang gak pernah ada ujungnya, dan urusan suami yang juga tak kalah minta diperhatikan. Semuanya prioritas. Dan aku bebas dari itu semua selama tiga tahun. TIGA TAHUN. Bukan waktu yang sebentar dan bukan waktu yang lama juga. Pertanyaannya, apa aku bahagia? Kenapa dalam keadaan seperti ini justru aku merasa tidak produktif? Aku justru jadi tambah malas. Aku gak fokus. Aku tidak semangat. Aku turun. Produktifitas turun, kecerdasan turun, parah parah parah. Dan tidak ada yang bisa menolongku selain diriku sendiri. Seharusnya aku bisa bangkit. Seharusnya aku bisa lebih produktif. Seharusnya aku menyibukkan diri dengan fokus pada diri sendiri untuk menyelesaikan permainan ini.

Orang bilang kita harus keluar dari zona nyaman kita. Tapi apakah kita sudah bahagia di zona nyaman? Jika kita tidak bahagia, seharusnya aku berusaha untuk segera keluar dari zona tidak bahagia ini. And now I AM SAD.

Thursday, 19 January 2017

Gamelan by PPI Denmark

PPI were asked to perform Gamelan under Bapak Diran direction at Pak Awang Painting Exhibition.

We are going to perform 3 songs, those are Kebo Giro, Gugur Gunung, and Serayu. Below are the lyrics.