Tuesday, 18 July 2017

Taburlah garam ke air laut

Kalian tahu kan garam asalnya dari mana? Selain ada di laut, garam juga bisa didapatkan di beberapa gunung. Tapi bukan garam gunung yang ingin saya bicarakan. (iki arep nang endi tho ceritane?) Kalian tahu kan kalau air laut itu asin. Lalu apa jadinya kalau air laut itu kita tambah garam? Akankah jadi lebih asin? Bisa jadi. Tapi pertanyaannya, untuk apa menambah garam ke air laut yang sudah cukup garam? Anyway, ini hanya analogy saja. Mungkin juga kurang tepat.

Melihat fenomena banyak orang - tidak hanya anak muda, tapi juga orang tua yang gemar pamer… Beuh…. Kadang lihatnya gimanaaaa gitu…. Antara kasihan -- karena (menurut saya pribadi) mereka seperti justru menunjukkan kurangnya mereka, miskinnya hati mereka – dan males banget. Iya, males banget. Pentingnya apa coba? Manfaatnya apa lagi? Gak ada gitu kegiatan yang lebih bermanfaat dari sekedar pamer? Belajar masak kek, mainan sama anak kek, belajar jahit, merajut, atau hobi dan keterampilan yang lain? Yang bapak-bapak mending bikin proposal gitu? Bangun negara atau apa kek.

Monday, 17 July 2017

Geneva, Switzerland

Geneva, 15 July 2017
Pagi hari jam 8, saya berangkat ke Geneva dari Lyon part dieu menggunakan Flix bus. Perjalanan ke Geneva ditempuh selama 2,5 jam. Selama perjalanan, saya menikmati pemandangan yang luar biasa indah karena dari Lyon menuju Geneva, rute perjalanan bis melewati deretan pegunungan yang dikelilingi oleh sungai Rhone: Montanges, Confort, Peron, dll.

Sunday, 9 July 2017

Annecy, 8 July 2017

Annecy adalah kota kecil di tenggara Lyon. Dari Lyon, hanya berjarak 2 jam saja perjalanan dengan Ouibus. Saya berangkat sendiri dan hanya akan menghabiskan 10 jam di Annecy. Perjalanan menuju Annecy sungguh indah. Bus berjalan menembus gunung, benar-benar menembus gunung karena ada terowongan yang cukup panjang menembus gunung.

Monday, 3 July 2017

Tentang Ephemeral restaurant

Workshop tentang budaya masak dan inovasi ini adalah pembuka dari symposium yang akan diadakan besok yang mengusung tema memasak sebagai ritual. Workshop ini diselenggarakan setengah hari pada tanggal 28 Juni 2017. Sebelum memulai workshop, peserta diajak untuk makan siang bersama di Ephemeral Restaurant (restaurant sementara) yang kali ini mengusung tema Hutan.
Pintu masuk
Disebut sebagai ephemeral restaurant karena resto ini adalah tempat para calon koki berkarya menunjukkan bakatnya mulai dari A sampai Z. Mulai dari mendesain menu, menyusun jadwal, memikirkan konsep restoran, dekor, bahan baku, dan lain sebagainya. Restoran ini akan berganti-ganti tema sesuai dengan proyek yang siswa kerjakan. Bisa dibayangkan biaya untuk pembuatan restoran ini.. karena restoran ini harus berganti dekor sesuai dengan temanya, maka biaya habis pakainya pasti banyak sekali. Saya merasa sangat beruntung bisa mencicipi suasana dan makanan di restoran ini. Ini adalah pengalaman yang tidak ternilai harganya untuk saya karena restoran ini tidak akan ada lagi di masa yang akan datang.

Cooking cultures and innovation: Evolution of traditional recipes

Workshop ini dimulai setelah makan siang selesai dan bertempat di ruang amphitheater. Ruang amphiteather ini bentuknya seperti ruang kuliah yang bertingkat-tingkat tempat duduknya, namun alih-alih white board di depan, ada dapur untuk mendemokan cara memasak. Kemudian dibeberapa sudut dapur ada camera cctv yang bisa memperbesar gambar kemudian langsung ditampilkan di dua layar besar yang ada di bagian atas. Dengan demikian, orang yag duduk dibagian belakang pun dapat mengetahui apa yang terjadi dan apa yang sedang dilakukan oleh chef di depan.
Ruang Amphitheatre

Dapur demo

Cooking as a ritual: Cuisine and culture in the globalized 21st Century World


The symposium was held on June 29th, 2017 from 9.00-17.30 at the Laboratoire des services of Institute Paul Bocuse. There were 8 oral presentations and 2 poster presentations in this symposium. I will not talk about the poster since it was in French and I don’t understand any single word . The aim of this symposium will thus be to question the evolution of cooking perceived as a ritual in a globalised world. The oral presentations were as follows:

Wednesday, 21 June 2017

Exchange environment at Bonduelle Head quarter

Alhamdulillah dalam perjalanan menempuh pendidikan doctoral ini saya mendapatkan kesempatan untuk exchange environment sebagai bagian dari program PhD di University of Copenhagen. Exchange di sini adalah wajib, namun lama waktu dan jumlahnya tidak ditentukan. Untuk tahap pertama, saya akan pindah kerja di kantor pusat Bonduelle di Villeneuve d’ascq, Perancis Utara. Saya bekerja di sana selama 2 bulan mulai dari 1 Maret sampai 1 Mei 2017. Bonduelle adalah perusahaan yang memproduksi sayuran kaleng sebagai komoditas utamanya, namun Bonduelle sekarang sudah berkembang pesat dan juga memproduksi sayuran beku, makanan siap saji, dan makanan siap panggang.

Selama bekerja di Bonduelle, saya mendapatkan ruang kerja bersama dengan Jean-Yves, seorang koki professional yang sudah menjadi kepala departemen R&D. Dia banyak mengajari saya bahasa Perancis. Targetnya one word one day. Tapi karena gak setiap hari juga aku ketemu dia, jadi ya ga tercapai, tapi lumayan lah perbendaharaan kataku untuk modal. Dalam seminggu Jean-Yves kerja di dua kantor: di Villeneuve d’ascq dan di pabrik Bonduelle di Renescure.

Selama pertukaran ini saya dibiayai oleh proyek VeggiEat dari Uni Eropa untuk Staff Mobility. Seharusnya saya turut berpartisipasi dalam proyek mereka, namun karena proyek mereka sudah hampir selesai dan sudah ada orang yang mengerjakan proyek tersebut, maka saya hanya mengerjakan pekerjaan saya sendiri di lingkungan yang berbeda dari Copenhagen.
Meja kerja saya di Bonduelle

Saya juga berkesempatan untuk berkeliling di pabrik Bonduelle. Saat itu belum masa panen, maka tidak semua plant beroperasi. Saya hanya melihat sebagian plant pengalengan sayur yang masih berjalan memproduksi white bean kaleng yang bahan bakunya diimpor dari negara lain dan berkeliling ke pabrik pembekuan sayur yang sedang tidak beroperasi. Selama tur, penjelasan dilakukan dalam bahasa Perancis. Tapi Cecile sebagai tour leader masih lumayan baik, dia mau translate sebagian meski tidak semua. Sisanya saya hanya mengamati keadaan saja. Untungnya, saya pernah ke pabrik serupa ketika S2 ambil mata kuliah di Porto, jadi lumayan bisa nyambung.

Selain kunjungan, saya juga diberi kesempatan untuk mendiseminasikan penelitian saya. Saya presentasi hasil penelitian saya dua kali dihadapan kolega. Begitu juga sebaliknya. Eloise mempresentasikan pada saya tentang Bonduelle, sejarah Bonduelle, kegiatan-kegiatan bonduelle dan Bonduelle foundation, serta apa yang dia kerjakan untuk Bonduelle. Eloise ini seumuran dengan saya, tapi dia sudah lulus PhD dan hampir satu tahun bekerja untuk Bonduelle. Ketika dia S3, dia mendapatkan dana dari Bonduelle Foundation untuk sebagian penelitiannya. Setelah lulus, dia bekerja untuk Bonduelle Foundation.

Selama di Bonduelle, saya punya teman makan siang, dua orang mahasiswa master yang sedang magang selama 6 bulan. Namanya Khouloud yang berasal dari Lebanon dan Gautier yang asli Perancis. Kami hampir selalu makan siang bertiga. Pilihan makan siang kami antara lain kantin Bonduelle, kantin asrama sekitar Bonduelle, Bonduelle magasin, dan V2 shopping center.
Lunch mate

Jika tidak makan siang dengan mereka, saya lebih memilih untuk membeli lunch box di Bonduelle Magasin. Tipikal kotak makan siang yang dijual disana adalah seperti ini. Salad ikan atau ayam, crouton, olive oil dan balsamic, serta dessert. Rasanya lumayan enak meski membosankan karena tidak banyak pilihan yang dapat saya makan.
Tipikal kotak makan siang Bonduelle

Lebih jauh mengenai Bonduelle dapat dilihat di sini, sedangkan untuk Bonduelle Foundation ada di sini.

Thai Airways: Review

Tahun ini sepertinya Thai Airways sedang promosi untuk penerbangan ke Eropa. Keluarga saya mendapatkan tiket PP cukup murah Jakarta-Milan, Brussel-Jakarta. Karena aira tinggal lebih lama di Eropa daripada keluarga, maka kami harus mencari tiket untuk mengembalikan Aira ke Indonesia. Awalnya saya membelikan tiket untuk suami dan Aira saja tanpa saya, dari Copenhagen-Jakarta, PP sekitar 504 euro per orang. Saya baru beli tiket ke Jakarta H-5 keberangkatan dan alhamdulillah masih dapat di harga 486 euro PP.

Penerbangan dari Copenhagen ke Bangkok ditempuh dalam waktu 10 jam 35 menit. Pesawat yang digunakan adalah Boeing 777-300. Pesawat ini agak lawas. Layar hiburannya tidak dapat dimainkan khususnya untuk bagian game anak2. Jika tidak diminta, awak kabin tidak memberikan mainan untuk anak-anak dengan percuma. Jika kita meminta, baru akan diberikan secara percuma. Mainan yang Aira dapat adalah buku stiker dan balon bentuk pesawat. Fasilitas yang didapat setiap penumpang antara lain banta, selimut, dan headphone saja. Tidak ada amenities yang lain seperti sikat gigi, penutup mata, sumbat telinga, dll. Fasilitas hiburan yang ditawarkan di layar pun tidak banyak pilihannya. Saya sudah hampir semua tonton itu filmnya. Tidak ada lagi yang menarik. Yang belum saya tonton paling film-film asia yang saya kurang minati.

Begitu lepas landas, kami langsung dibagikan kacang dan minuman. Tanpa jeda yang cukup, kami langsung disediakan makan siang. Agak terlalu cepat untuk saya jedanya. Bahkan bisa dibilang tidak ada jeda. Makanan yang disediakan untuk Muslim adalah kari kambing, nasi dan sayur (saya lupa sayurnya apa), tapi rasanya bear-benar tidak membuat selera. Saya pikir karena ini maskapai Asia, rasanya mungkin bisa cocok dengan lidah saya, namun ternyata Thai Airways belum mampu menyenangkan lidah saya. Ditambah lagi selama waktu makan, pesawat menglami beberapa kali turbulance. Sehingga kami makan dalam keadaan dikocok-kocok. Semakin mebuat saya harus berjuang ekstra untuk bisa mensuplai energi ke dalam tubuh dalam bentuk makanan hanya supaya saya tidak jatuh sakit. Sebelum mendarat, kami kembali mendapatkan makan berupa sarapan. Namun kembali lagi, makanan disediakan saat banyak rintangan di udara. Pesawat kembali bergoncang saat jam makan tiba. Sungguh tidak nyaman. Aira lebih memilih tidur. Sarapan kali itu adalah kentang dengan omelet, yoghurt dan buah.

Tiba di Bangkok, kami transit sekitar 1,5 jam. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Jakarta dengan Boeing 787 yang lebih baru, jendela yang dapat digelapkan, layar yang lebih besar dan waktu tempuh 3 jam 35 menit. Kami hanya dapat sekali makan. Saya lupa dapatnya apa, tapi sama tidak menariknya.
Svarnabhumi airport

Pulang dari Jakarta, masih dengan maskapai yang sama, tidak ada perbedaan dalam hal pelayanan. Kami lupa mendokumentasikan menu dari Jakarta ke Bangkok. Dari Bangkok ke Copenhagen, alhamdulillah kami sempat mendokumentasikannya. Dari snack dan makan utama tidak ada jeda dan rute penerbangan punmasih sama bergelombangnya. Menu makanan muslim pertama kami mendapat beef stew, nasi dan okra yang rasanya masih dibawah rata-rata. Saya pun tidak mampu menghabiskannya karena diperparah dengan kondisi makan yang masih juga dikocok-kocok. Menu sarapan muslim, kami mendapatkan omelet, hash brown dan jamur. Omeletnya lumayan. Hash brownnya tetot.
Beef stew, rice and okra

Omelete, hash brown, mushroom

Secara keseluruhan, yaaa… namanya maskapai murah yang lagi promo. You get what you pay and do not wish too high.

Kamar di Lille

Selama pertukaran di Lille bulan Maret-Mei 2017, saya menyewa kamar teman saya di Helene Boucher Residence. Kamar nya hanya seluas 2,5 x 4 meter dengan kamar mandi dalam dan dapur umum yang berada ditengah lorong.
Helene Boucher Residence

Residence ini punya fasilitas ruang belajar dan ruang mencuci di lantai dasar. Dapur umum di setiap lantai dan Wifi gratis. Begitu masuk kamar, di sebelah kanan adalah kubikel kamar mandi yang terdiri dari shower, wastafel, dan WC dengan luas 1x2 meter. Sebelah kiri pintu adalah lemari besar. Diatas pintu adalah tempat untuk menyimpan koper. Di depan pintu persis ada meja besar dengan satu kursi. Di sebelah kamar mandi ada tempat tidur yang pas mepet. Ada jendela besar dengann pemandangan jalur metro. Sebenarnya kamar ini cukup baik untuk ditinggali satu orang. Jika ayah main ke kamar, langsung penuh deh kamarnya. Gak bisa gerak sama sekali. Tapi semua di desain sangat efisien. Beginilah penampakan kamar ketika saya akan pergi.
Meja belajar dan tempat tidur

WC

Shower

Pintu keluar dan lemari

Friday, 14 April 2017

Pernah

"Pernah kulihat dunia dari ketinggian, begitu indah dan semarak. Tetapi, kini saatnya aku belajar untuk terus berjalan dengan merunduk, semoga bisa kulihat yang selama ini luput dari pandanganku.
Pernah kurasakan ingar-bingar kehidupan ini, begitu dinamis dan menggoda, kini saatnya kubelajar untuk sunyi dalam kebisingan, semoga lebih menggetarkan jiwa yang merindu.
Pernah kubertumpu pada kecepatan sang waktu untuk merespons beragam kisah dan cerita, tentu banyak hal yang telah kupelajari dalam waktu yang singkat, tetapi rasanya sudah tiba saatnya kubelajar untuk berjalan perlahan di belakang sang waktu agar bisa kunikmati sepenuhnya perjalanan ini.
Pernah kudengar bisikan cinta yang teramat dalam dari Dia yang tersembunyi, hingga aku pun meronta dalam dekapan-Nya, mungkin sudah tiba waktunya untuk bibir ini berbisik: aku pun mencintai-Mu, dan mohon sembunyikan aku lebih dalam lagi dalam kepak sayap-Mu, dan bawalah kepasrahanku ini terbang kemana Engkau mau."

Penutup dari buku "Dari Hukum Makanan Tanpa Label Halal Hingga Memilih Mazhab yang Cocok" yang ditulis oleh Nadirsyah Hosen.