Friday, 15 September 2017

Pengalaman hampir terlantar

Hari itu saya berangkat ke bandara Kastrup dengan penuh enggan. Saya capek. Dari malam sebelumnya saya sudah sambat ke Hanum, badanku gak enak. Butuh pijet. Butuh istirahat. Bahkan yang mengepak koperku saja Hanum. Saya hanya meletakkan barang-barang yang penting dan secukupnya saja saya bawa. Belum pernah saya pergi seenggak niat seperti itu. Pagi itu setelah sarapan seadanya, saya berangkat ke bandara. Biasanya saya hanya naik bis sampai bandara. Namun karena bawaanku tidak sebanyak biasanya, hanya satu koper besar dan tas cangklong, biar cepet, saya pindah naik metro. Eh, ternyata metronya lagi ada masalah. Jadi setiap stasiun berhenti sekitar 3-5 menit. Untung saya memutuskan untuk berangkat lebih awal 30 menit dari rumah. Jadi masih ada cukup waktu meski metro bermasalah.

Thursday, 31 August 2017

USA, I am coming (Boston)

Kesan pertama bertualang di benua Amerika

Yes! Alhamdulillahirabbi’alamiiin…. Akhirnya saya menapakkan kaki di benua Amerika juga. Benua ketiga yang kujelajahi ini dimulai dari Boston. Saya berangkat dari Copenhagen menuju Boston dengan transit di Amsterdam dan menempuh perjalanan total sekitar 8,5 jam. Setelah dari Boston di negara bagian Massecuchet, saya menuju ke Providence di Rhode Island, kemudian ke New York sebelum kembali ke Copenhagen.

Moslem Inflight Meal

Dear inflight catering chef,

I have a serious question. Is that very limited recipes of moslem meal you are familiar with? I have been in hundreds hour flight with non-middle-east airlines company (I exclude middle east airline because they normally serve halal food) and so far I have never been satisfied with the moslem meal you (the non-middle-east airlines) served. Mostly the moslem meal will be just curry, curry, and curry. That is one problem. Moslem do not only eat curry. We do like to try western/Asian/fusion/mediteranean/continental food as long as it is halal. Moslem meal is not a matter of one recipe or one type of food. It is a matter of what, where and how the ingredients come from. We are concern of what we are eating. Another problem is that even the curry dish you served is a far cry from the real curry. As a person with a deep culinary background both in curry culture and scientific way, I would question which curry recipe do you use?

I know that inflight meal is one of the worst meal (after hospital meal). It mainly due to the environment and condition when the meal is consumed, but we are working for being better. I would really ask you to work harder on this then. I put my concern on this as I predict that moslem traveller is increasing in the next coming years.

Cordially,
Moslem passenger

#inflightmeal #moml #moslemmeal #flight #airlines 

Prosedur keamanan di bandara untuk penumpang yang menuju ke USA

Ini perjalanan pertama saya ke USA. Saya akan masuk melalui Boston dan berangkat dari Copenhagen via Amsterdam Schipol. Dari Copenhagen saya tidak bisa self service check in karena harus check in langsung ke Boston (direct check in). Jadi saya harus antri di counter penerbangan untuk diperiksa paspor dan visanya manual oleh mbak petugas. Masuk ke gerbang (gate) di Copenhagen melalui prosedur biasa. Karena saya terbang ke Amsterdam dulu alias penerbangan domestik, maka saya tidak melewati pemeriksaan imigrasi di Copenhagen.

Thursday, 17 August 2017

Thomas Røde at Indonesian bazaar and cultural day in Horsens

Sabtu, 5 Agustus  2017

Sabtu minggu lalu, saya, teman-teman PPI, staf KBRI dan DWP KBRI diminta tampil gamelan di acara Indonesian bazaar and cultural day. Sesuai namanya, acara ini menampilkan band, gamelan, dan berbagai macam tarian klasik dan kontemporer Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Untuk gamelan, kita main tiga lagu di pembukaan dan penutup, yaitu lagu Kebo giro, Ricik-ricik dan Gugur gunung. Tarian yang ditampilkan antara lain (yang saya ingat saja ya) Selayang pandang, Dinding pa dinding, Sajojo, Gemufamire, Kuda lumping, Yamko rambe yamko, dua tari bali, dan ada juga penari Indonesia yang didatangkan dari Budapest.

Latar belakang dari digelarnya acara ini sebenarnya karena Ibu Dini yang memiliki restoran Indonesia-Jepang di Horsen ingin bekerja sama dengan Thomas Røde, seorang Chef beraliran Paleo diet dari Denmark yang punya acara sendiri di DR2 dan dia suka mengeksplor bahan-bahan dari Indonesia. Puncak acara dari kegiatan ini adalah demo masak oleh Thomas Røde. Ada 24 seat yang tersedia untuk dapat mencicipi masakannya. Alhamdulillah saya berkesempatan untuk duduk mencoba masakannya. Pada acara itu, Thomas Røde menyajikan 5 jenis masakan.
Ibu Dini, Thomas Røde, and Pak Rusli

Wednesday, 2 August 2017

La Tahzan: Secondment experience

So, how was your secondment experience?

Well, it was okay. I don't get more than the least one could get. At least, I experienced working in an industry (which is nothing special because I was not involved in anything) , I participated in some workshops and symposiums, I presented in one of the workshops, I joined summer school that was in French, but luckily I had someone willing to translate for me, and I worked hard voluntarily without any compensation until late at night for 6 nights by helping a restaurant setting experiment, more specifically in the kitchen.

The only interesting thing that made me taking this Secondment in the beginning was that I could earn some extra money (because that was what Armando offered), in the same time,  I would like to help Armando solving the secondment problem. So, I accepted 4 months secondment. But surprisingly, once I arrived in my first place of secondment, I got an email from the economy and administration section saying that I cannot have any per diem or any extra money, simply because I am an external PhD student. What could be any "nicer" than this?

I was mad. I was full of anger. I was really upset, disappointed, feeling betrayed and all that negative thoughts and emotions came. I am a normal human being.

I thought if I got extra money probably I would have saved money for Aira's education. But that was only my plan and my dream..  Maybe God has different plans. Maybe God wants to give me more money later on. Maybe God has prepared a lot of scholarships for Aira. Maybe God wants me to take Hajj soon. Maybe... Maybe.. Maybe... I just do not know Allah's grand plan and I believe that God has prepared something better beyond my expectations and my knowledge. Because we know, God's plan is always better than ours.

So, why do I need to be sad? I have Allah and that is more than enough.

Saturday, 29 July 2017

Restaurant Setting Experiment di Research Center Institute Paul Bocuse

Mulai tanggal 17-28 July 2017, saya berkesempatan untuk membantu penelitian Adriana Galinanez Plaza tentang consumer liking in different context. Penelitiannya mirip-mirip dengan penelitianku. Bedanya saat itu, dia hanya menguji satu produk, kue bolu dengan zaitun dan ham yang industrial dan home-made sebagai appetizer di jamuan makan malam sebuah restoran. Konteksnya pun dia buat berbeda, satu minggu di amenguji di restoran, satu minggu dia akan menguji di laboratorium.

Saya kebagian tugas di dapur. Saya bertanggung jawab untuk menyiapkan aperitif berupa sup Gazpacho, membersihkan semua piranti setelah dipakai dan membantu koki menyiapkan piring untuk menu utama dan dessert. Karena yang diuji hanya kue bolunya, dan konsumen tidak membayar apapun alias makan malam gratis, maka menu dibuat sesederhana mungkin. Mereka menggunakan produk industri mulai dari Gazpacho, mereka menggunakan merk . untuk kue bolu, ada yang dibuat benar oleh kokinya, ada yang dari Carrefour. Kemudian untuk menu utama, buncis beku dari Bonduelle yang dioven 15 menit, kemudian dikasih minyak zaitun dan garam; dadu kentang beku dari Mc Cain yang dioven 15 menit dan diberi garam; filet dada ayam yang di souz vide, kemudian di pan grill sebentar untuk membentuk crust, dan diberi saus kaldu tulang ayam. Untuk makanan penutup, Raspberry cake beku dari Pomona Passion Froid yang diberi saus raspberry dan krim. Jujur, saya sedih lihat orang datang ke restoran dan dikasih makan produk industri begini. Oke, penampilannya bagus, tapi kan ini IPB?! Oke, mereka tidak bayar, jadi gak boleh protes juga kalau kualitas makanannya begitu. Tapi ya tetep aja. Selain makanan, ada juga minuman bir yang bisa konsumen pilih.

Makan malam ini dimulai pukul 7 dan berakhir sekitar pukul setengah 10 malam. Setelah itu kita membersihkan dapur hingga seperti sedia kala. Hari pertama aku pulang sampai rumah pukul 12 malam lebih sedikit. Fiuh. Capek juga berdiri dari jam 4 sore. Hari pertama saya bekerja di dapur dan sudah keslomot loyang panas sepanjang 2 cm. Nanya kerja di dapur pas musim panas begini panasnya ganda. Karena udara di luar sudah panas, kemudian di dapur jelas gak ada AC dan banyak kompor dan oven nyala. Tidak hanya itu. Meja platting dan dish washernya semua dipanaskan. Sempurna.

Kesimpulannya: saya bersyukur bekerja sebagai dosen, tidak sebagai koki.

Tuesday, 18 July 2017

Taburlah garam ke air laut

Kalian tahu kan garam asalnya dari mana? Selain ada di laut, garam juga bisa didapatkan di beberapa gunung. Tapi bukan garam gunung yang ingin saya bicarakan. (iki arep nang endi tho ceritane?) Kalian tahu kan kalau air laut itu asin. Lalu apa jadinya kalau air laut itu kita tambah garam? Akankah jadi lebih asin? Bisa jadi. Tapi pertanyaannya, untuk apa menambah garam ke air laut yang sudah cukup garam? Anyway, ini hanya analogy saja. Mungkin juga kurang tepat.

Melihat fenomena banyak orang - tidak hanya anak muda, tapi juga orang tua yang gemar pamer… Beuh…. Kadang lihatnya gimanaaaa gitu…. Antara kasihan -- karena (menurut saya pribadi) mereka seperti justru menunjukkan kurangnya mereka, miskinnya hati mereka – dan males banget. Iya, males banget. Pentingnya apa coba? Manfaatnya apa lagi? Gak ada gitu kegiatan yang lebih bermanfaat dari sekedar pamer? Belajar masak kek, mainan sama anak kek, belajar jahit, merajut, atau hobi dan keterampilan yang lain? Yang bapak-bapak mending bikin proposal gitu? Bangun negara atau apa kek.

Monday, 17 July 2017

Geneva, Switzerland

Geneva, 15 July 2017
Pagi hari jam 8, saya berangkat ke Geneva dari Lyon part dieu menggunakan Flix bus. Perjalanan ke Geneva ditempuh selama 2,5 jam. Selama perjalanan, saya menikmati pemandangan yang luar biasa indah karena dari Lyon menuju Geneva, rute perjalanan bis melewati deretan pegunungan yang dikelilingi oleh sungai Rhone: Montanges, Confort, Peron, dll.

Sunday, 9 July 2017

Annecy, 8 July 2017

Annecy adalah kota kecil di tenggara Lyon. Dari Lyon, hanya berjarak 2 jam saja perjalanan dengan Ouibus. Saya berangkat sendiri dan hanya akan menghabiskan 10 jam di Annecy. Perjalanan menuju Annecy sungguh indah. Bus berjalan menembus gunung, benar-benar menembus gunung karena ada terowongan yang cukup panjang menembus gunung.