Thursday, 26 October 2017

Masak apa hari ini? Plant Jammer akan membantumu!

Mau masak apa hari ini? Ini adalah pertanyaan yang setiap hari muncul buat orang yang suka masak, utamanya para moms kece jaman now.

Bosan dengan menu yang gitu-gitu aja? Mau padu padan bahan tapi takut gak enak? Mau ikutan lomba cipta resep?

Coba datang ke web ini, namanya https://www.plantjammer.com/. Di sana kita bisa menciptakan resep baru yang rasanya insyaAllah sesuai. Web ini akan membantu kita menciptakan resep kita sendiri dengan menyesuaikan dengan bahan yang kita punya di kulkas (atau kalau gak punya, tinggal sms tukang sayur keliling supaya dibelikan bahannya untuk kita) dengan berbasis big data food pairing yang mereka punya.
tampilan web PlantJammer

Mengapa harus masak sendiri kalau bisa beli jadi di warung?
Karena sekarang sudah ada Plantjammer. Kamu gak perlu takut lagi memasak! Seperti kata Chef Gusteau dari film Ratatouille dengan cheesy Disney quotenya, "Anyone can cook but only the fearless can be great". Dengan memasak sendiri:

  1. kita bisa jadi lebih mengenal diri kita sendiri (bahkan di Eropa, cooking is therapy), 
  2. bisa membangun kedekatan dengan orang yang kita bagi makanannya (anak, suami, mertua, pacar, adik, dll),
  3. kita bisa mengasah kemampuan kita sendiri,
  4. kita turut mengurangi rantai distribusi makanan,
  5. kita jadi memperkaya kosa kata rasa,
  6. kita jadi melatih otak untuk belajar tentang rasa,
  7. dan pastinya bikin kita tambah kece.
Plant Jammer ini juga sangat mudah digunakan. Kita cukup tentukan mau masak jenis apa, masukin bahan-bahan yang kita punya, pilih bahan-bahan pendukung lainnya (yang berada di daftar paling atas adalah yang paling cocok dipadankan. Semakin ke bawah agak kurang nyambung, tapi seru juga kalau di coba), kalau sudah merasa cukup bahan, klik selesai dan akan muncul resepnya. Bisa jadi kita adalah orang pertama yang menciptakan dan mencoba resep tersebut. Jadi bisa dilombakan ke lomba cipta resep!

Apa bedanya dengan cookpad atau google? Cookpad dan Google hanya akan menampilkan berratus-juta resep-resep yang pernah ada di dunia. Lalu kita akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk memilih resep mana yang sesuai. Seringkali kita hanya akan memilih resep yang paling familiar dengan yang biasa kita masak. Jadinya itu lagi itu lagi. 

Dengan PlantJammer, kita gak perlu sibuk dan bingung mau pilih resep yang mana karena sesuai dengan slogannya PlantJammer, the best recipe is your own recipe!!

Wednesday, 18 October 2017

Creative Taste Bud

Creative taste bud is an unusual symposium where we discuss, celebrate and explore knowledge around taste bud, sustainability, travelling, culture, creativity, and memory. The theatre stage showed an excellent combination of research, performance, and innovation that dive into memories, storytelling, learning and sharing. The event was held in Aarhus Teather, 4-5 September 2017. The  organizing committee was 10 people from Smag For Livet project. There were 12 speakers in four plenary sessions, 8 workshop and innovation showcases, 2 soap dialogs, and dinner. There were 133 people participated in this symposium. I will report what was going on each program I attended.

Tuesday, 26 September 2017

The heritage days in Lyon (Journee Europeennes du Patrimoine)

Tanggal 16-17 September yang lalu, di Lyon sedang ada acara Patrimione (Heritage) day. Ini adalah acara tahunan dimana seluruh kota merayakannya dengan cara membuka museum dan beberapa gedung kantor untuk umum. Banyak diantaranya gratis, terutama jika gedung itu milik pemerintah atau disubsidi pemerintah. Untuk museum yang tidak disubsidi pemerintah, ada potongan biaya hingga 50%. Ada buanyak sekali program yang ditawarkan di sini.

Monday, 25 September 2017

USA, I am coming (New York)

New York in a blast

Pemberhentian terakhir sebelum saya kembali ke Copenhagen adalah New York. Rencana saya jalan-jalan bareng sama Adriana dan Anastasia dari Institut Paul Bocuse, tapi kenyataannya susah sekali menghubungi mereka karena saya tidak punya paket data. Untungnya saya ketemu Farhana dari Malaysia dan dia lebih mudah dihubungi dan diajak janjian. Jadi saya jalan keliling New York bareng dia selama satu setengah hari. Keuntungan lainnya adalah dengan begitu saya jadi punya foto diri, tidak swafoto terus. Lumayan.

Sunday, 24 September 2017

USA, I am coming (Providence, Rhode Island)

Providence

Providence ini adalah tujuan utama saya pergi ke benua Amerika karena saya ada seminar Pangborn Sensory Science selama 5 hari. Saya tiba hari Sabtu malam, seminar dimulai hari Minggu hingga Kamis. Ulasan mengenai Pangborn 12 akan saya bahas sendiri di link berikut. Di post ini saya akan bercerita tentang kondisi tempat tinggal saya serta kesan terhadap kota Providence.

Friday, 15 September 2017

Pengalaman hampir terlantar

Hari itu saya berangkat ke bandara Kastrup dengan penuh enggan. Saya capek. Dari malam sebelumnya saya sudah sambat ke Hanum, badanku gak enak. Butuh pijet. Butuh istirahat. Bahkan yang mengepak koperku saja Hanum. Saya hanya meletakkan barang-barang yang penting dan secukupnya saja saya bawa. Belum pernah saya pergi seenggak niat seperti itu. Pagi itu setelah sarapan seadanya, saya berangkat ke bandara. Biasanya saya hanya naik bis sampai bandara. Namun karena bawaanku tidak sebanyak biasanya, hanya satu koper besar dan tas cangklong, biar cepet, saya pindah naik metro. Eh, ternyata metronya lagi ada masalah. Jadi setiap stasiun berhenti sekitar 3-5 menit. Untung saya memutuskan untuk berangkat lebih awal 30 menit dari rumah. Jadi masih ada cukup waktu meski metro bermasalah.

Thursday, 31 August 2017

USA, I am coming (Boston)

Kesan pertama bertualang di benua Amerika

Yes! Alhamdulillahirabbi’alamiiin…. Akhirnya saya menapakkan kaki di benua Amerika juga. Benua ketiga yang kujelajahi ini dimulai dari Boston. Saya berangkat dari Copenhagen menuju Boston dengan transit di Amsterdam dan menempuh perjalanan total sekitar 8,5 jam. Setelah dari Boston di negara bagian Massecuchet, saya menuju ke Providence di Rhode Island, kemudian ke New York sebelum kembali ke Copenhagen.

Moslem Inflight Meal

Dear inflight catering chef,

I have a serious question. Is that very limited recipes of moslem meal you are familiar with? I have been in hundreds hour flight with non-middle-east airlines company (I exclude middle east airline because they normally serve halal food) and so far I have never been satisfied with the moslem meal you (the non-middle-east airlines) served. Mostly the moslem meal will be just curry, curry, and curry. That is one problem. Moslem do not only eat curry. We do like to try western/Asian/fusion/mediteranean/continental food as long as it is halal. Moslem meal is not a matter of one recipe or one type of food. It is a matter of what, where and how the ingredients come from. We are concern of what we are eating. Another problem is that even the curry dish you served is a far cry from the real curry. As a person with a deep culinary background both in curry culture and scientific way, I would question which curry recipe do you use?

I know that inflight meal is one of the worst meal (after hospital meal). It mainly due to the environment and condition when the meal is consumed, but we are working for being better. I would really ask you to work harder on this then. I put my concern on this as I predict that moslem traveller is increasing in the next coming years.

Cordially,
Moslem passenger

#inflightmeal #moml #moslemmeal #flight #airlines 

Prosedur keamanan di bandara untuk penumpang yang menuju ke USA

Ini perjalanan pertama saya ke USA. Saya akan masuk melalui Boston dan berangkat dari Copenhagen via Amsterdam Schipol. Dari Copenhagen saya tidak bisa self service check in karena harus check in langsung ke Boston (direct check in). Jadi saya harus antri di counter penerbangan untuk diperiksa paspor dan visanya manual oleh mbak petugas. Masuk ke gerbang (gate) di Copenhagen melalui prosedur biasa. Karena saya terbang ke Amsterdam dulu alias penerbangan domestik, maka saya tidak melewati pemeriksaan imigrasi di Copenhagen.

Thursday, 17 August 2017

Thomas Røde at Indonesian bazaar and cultural day in Horsens

Sabtu, 5 Agustus  2017

Sabtu minggu lalu, saya, teman-teman PPI, staf KBRI dan DWP KBRI diminta tampil gamelan di acara Indonesian bazaar and cultural day. Sesuai namanya, acara ini menampilkan band, gamelan, dan berbagai macam tarian klasik dan kontemporer Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Untuk gamelan, kita main tiga lagu di pembukaan dan penutup, yaitu lagu Kebo giro, Ricik-ricik dan Gugur gunung. Tarian yang ditampilkan antara lain (yang saya ingat saja ya) Selayang pandang, Dinding pa dinding, Sajojo, Gemufamire, Kuda lumping, Yamko rambe yamko, dua tari bali, dan ada juga penari Indonesia yang didatangkan dari Budapest.

Latar belakang dari digelarnya acara ini sebenarnya karena Ibu Dini yang memiliki restoran Indonesia-Jepang di Horsen ingin bekerja sama dengan Thomas Røde, seorang Chef beraliran Paleo diet dari Denmark yang punya acara sendiri di DR2 dan dia suka mengeksplor bahan-bahan dari Indonesia. Puncak acara dari kegiatan ini adalah demo masak oleh Thomas Røde. Ada 24 seat yang tersedia untuk dapat mencicipi masakannya. Alhamdulillah saya berkesempatan untuk duduk mencoba masakannya. Pada acara itu, Thomas Røde menyajikan 5 jenis masakan.
Ibu Dini, Thomas Røde, and Pak Rusli