Thursday, 23 March 2017

Exchange Challenges (Lille, France)

Moving out of your comfort zone does challenge you.

I had (and for sure, am going to have it again after this exchange) a super nice comfortable and cosy working life in Copenhagen. I have enough space in the office. I have space for praying undisturbedly and people surround me tolerate that. I have a big table that can be moved up and down as you ergonomically will be happy and healthy working. I have a Danish-ergonomic-and-minimalist-designed-black chair that does not make me tired or having back pain. I have a full speed internet access and no problem with VPN or the university's cloud data. I had no problem at all accessing my data on my computer. I have a big window that is not interesting to daydream, makes me focus only to my laptop every day. I have a free full access to any printer in the building, for unlimited pages.

Now in Lille, I dont have it. I have a table and a chair that I can significantly feel the significant different effect of it. However, I am happy because I can learn new language.

I left my small-but-super-hygge sanctuary (read: my costly-little-room in my shared apartment) in Copenhagen. I left all my hygge emergency kit. I don't have a near-well-equipped kitchen anymore.

In Lille, I don't even dare to ask for an oven or microwave. I don't even have a pot. All I have in my common kitchen now is just induction stove (like never been cleaned), empty sink (like never been used) and a 15x40x25 cm refrigerator. The last one helps a lot. I don't think I really need the stove as every weekend I will go to Gent to see my husband and cook massively for a week and store em in my refridge in Lille.

I live all alone in Lille. The only one Indonesian I know in Lille is a commuter from Gent. But I am happy because I know I will have a happy weekend and that is enough fuel for the weekdays in Lille.

I might have an extra (super annoying) administrative tasks: collecting all receipts of the 60 days I spent money on (while not every expense I have receipts like vending machine, laundry, or some receipts I lost even I tried to document everything), scanning em all, make a RejsUd document, and upload it one by one. That extra time to do this compulsory task is not even paid. However, I am happy and that is most important above all. Because if I am happy, I could work better and happily.

There are other good things happen over what we left behind. We just need to focus on the positive side.

Friday, 17 March 2017

The only rule of (the way of) eating is being grateful

Sebagai seorang yang banyak belajar tentang makanan, saya sedikit banyak belajar juga tentang budaya makan karena itu juga menjadi bidang ketertarikan saya. Setiap makanan tradisional memiliki cara makannya sendiri-sendiri. Ketidak mampuan memenuhi peraturan adat tersebut dapat dianggap sebagai bentuk ketidak sopanan dan beresiko mendapatkan sanksi sosial.

Friday, 10 March 2017

Manajemen pangan rumah tangga jomblo geografis

Paling bete kalau lagi bingung mau masak apa untuk seminggu ke depan. Memang usulan ide menu untuk seminggu bahkan kalau mau dikumpulin bisa untuk bertahun-tahun tersebar banyak di dunia maya. Tapi masalahnya, sebagai jomblo lokal yang hidup sendiri di negeri orang, manajemen pangan harus menjadi pertimbangan mengingat harga pangan yang mahal, ketersediaan, dan bagaimana cara menghabiskannya sendiri dalam waktu singkat sebelum busuk. Ditambah lagi harus mikir gimana caranya supaya cukup di kulkas dan freezer yang cuma kebagian satu rak untuk satu orang. Tentu ini menjadi masalah yang tidak mudah. Apalagi untuk orang yang rewel soal makanan macem saya  ini. Paling sedih kalau harus beli (apalagi mengonsumsi) makanan olahan (yang dikaleng, nugget, yang dibotol, sosis, oh my God!! it's a big NO-NO). Mau jajan terus tiap hari juga gak mungkin. Selain mahal, iya kalau ada yang halal. Kalau halal, iya kalau sesuai dengan selera kita. Kalau sesekali ya boleh lah untuk belajar mengenal rasa. Kalau tiap hari, ya makasih juga ya.. Kitakan juga butuh comfort food.

Lalu bagaimana mengatasinya? Berikut tips dari saya:

  1. Buat grup masak. Dengan grup masak ini, pekerjaan memasak jadi ringan, tidak banyak beban menghabiskan makanan, pengeluaran menjadi lebih murah, jenis masakan bisa berganti.ganti. Grup masak bisa mulai dari 2 orang hingg banyak. Kalau banyak, bisa dijadwal sekalian masaknya. 
  2. Tentukan menu. Buatlah kesepakatan bersama menu apa yang akan dimasak untuk seminggu ke depan. Mulai dari camilan, lauk, hingga makanan penutup. 
  3. Eksekusi. Masak bisa dilakukan bersama-sama atau bisa juga sendiri-sendiri, terus nanti barter. Tentu saja untuk belanja, semua dibagi rata supaya adil. Bisa juga dilakukan seminggu sekali untuk menghemat waktu dan tenaga.
  4. Jangan lupa punya microwave ya. Ini barang penting untuk makan tetap nikmat dan hangat.
Kelebihan dari metode ini antara lain:
  1. kita terhindar dari boredom
  2. kita turut berperan dalam mengurangi food waste baik dari bahan segar maupun dari makanan yang sudah dimasak
  3. kita bisa mengikuti selera kita sendiri. Gak mesti makanan indonesia terus juga. Makanan local setempat juga patut dicoba
  4. kita tahu benar dengan apa yang kita makan. Kita yakin dengan kualitasnya baik secara fisik maupun spiritual.
  5. kita jadi belajar masak. Kemampuan kita akan semakin terasah. 
Miss you hey my cooking partner in Copenhagen, @hapsariph.



Thursday, 9 March 2017

Edinburgh, I am turning 30!

Bermula dari ayah yang ngajak jalan-jalan ke UK bersama teman-temannya. Lalu pas daftar visa, malah visa ayah ditolak karena beberapa dokumen tidak menguatkan ayah akan keluar dari UK. Jadi mau tidak mau harus beli tiket PP, jadi sekalian deh ayah ngajak ulang tahunan ku di Edinburgh. Kenapa Edinburgh? Karena itu satu-satunya kota yang ada tiket Ryan air baik dari Charleroi maupun dari Copenhagen. Jadi kita bisa ketemuan di sana.

Ketemuan di Edinburgh. Bayangannya sih romantis, lancar. Tapi sudah hidup di era mbah google aja masih bisa salah paham gara2 mbah google nunjukin arah yang salah. (sudahlah.. tidak perlu dibahas di sini...kasihan starbucks mbah google suami saya) Singkat cerita, kita ketemu setelah lebih dari setengah jam cari-cari, makan biar gak terlalu bete, dan cek in ke airbnb yang udah kita pesen.

How do you like Edinburgh?

Wednesday, 8 March 2017

Happy women's day

Hari wanita internasional ini muncul karena adanya tekanan dari pihak laki-laki yang merendahkan kaum perempuan. Seandainya saja semua laki-laki di dunia ini bisa menghargai wanita sebagaimana mestinya, ku pikir, hari ini tidak perlu ada.

Sebagaimana yang dilakukan oleh suamiku. Seorang laki-laki yang begitu menghargai perempuan. Tak mampu aku membayangkan akan seperti apa aku tanpa dia. Aku yang rapuh, manja, banyak mengeluh, sambat, dan sering protes ini, dengan begitu super sabarnya dibimbing dan disayang.

Suamiku luar biasa...
Dia tidak seperti lelaki kebanyakan yang manja, tidak bisa pisah dari istrinya, banyak yang mengorbankan hak istrinya (karir, keluarga, bahkan harta istri) demi kepuasan suami. Dia berlaku yang sebaliknya. 
Dia yang selalu mengingatkan aku untuk sabar padahal disaat yang bersamaan diapun sedang berusaha untuk sabar.
Dia yang selalu mendukung sepenuhnya dan meridhoi jalan karir istrinya, meskipun aku tahu dia pun sudah banyak berkorban. 
Dia yang begitu tegar dan menegarkan saat melihat kehidupan orang lain yang bisa berkumpul dengan keluarganya sambil menjalani PhD. 
Dia bilang, PhD itu berjuang, bukan enak-enakan.
Tak semua pria bisa begitu.

Saya paham betul beratnya menjadi wanita, diapun begitu. Karena dia paham betul bahwa menjadi wanita itu berat, maka selalu dengan senang hati membantu saya yang terlalu sering meminta, saya yakin pria pun tak mampu menanggung beban berat wanita. 

Maka di hari wanita ini, sebagai wanita, aku ingin memberi penghargaan kepada suamiku, sebagai sosok disamping wanita yang membuat aku (terlihat) kuat. 

Adek sayang ayah..

Tuesday, 7 March 2017

What makes Denmark the Happiest country? (4)

Perbandingan dengan Perancis Villeneuve d'Ascq

Sejak 1 Maret 2017, saya sudah pindah ke Lille untuk tugas dibawah VeggiEat project di Bonduelle selama dua bulan ke depan. Alhamdulillah saya dapat pinjaman kamar dari Mas Kamil di Residence Hellen Boucher. Harga sewa per bulannya 242 euro sudah termasuk air, listrik, wifi, penghangat. Kamar yang didapat berukuran 2,5 m x 3,5 m sudah termasuk kamar mandi di dalam, lemari, meja belajar, tempat tidur dan kasur, dan lemari buku. Lebih kecil dari kamar saya di Denmark memang, tapi jelas jauh lebih murah dan kamar mandi di dalam. Dapur umum berbagi dengan 40 penghuni kamar yang lain dalam satu lantai. Di dapur ada kulkas, kompor induksi dan tempat cuci piring. Tidak ada peralatan dapur sama sekali. Tempat laundry ada di lantai dasar. Kelebihan lainnya, asrama ini sangat dekat dengan stasiun metro Cite Scientifique dan hanya berjarak 1,8 km saja dari kantor Bonduelle. Sayangnya lokasi ini jauh dari mana-mana. Saya sendiri sampai bingung harus cari makan dimana. Satu-satunya tempat belanja yang saya tahu hanya mall V2 yang dibawahnya ada supermarket Auchan. Tapi namanya supermarket kan serba mahal. Ada sih daging halal, tapi harganya lebih gak wajar dari Denmark. Setelah googling, ada Lidl yang berjarak 1 km dari rumah. Mungkin nanti sore saya berencana jalan kaki ke sana untuk beli bahan makanan. Meskipun saya yakin tidak ada daging halal di Lidl, tapi setidaknya saya bisa dapat makanan di sana, meski harus menjadi vegetarian untuk sementara waktu. (Babay daging merah.. saya harus hidup sehat dulu).

What makes Denmark the Happiest country? (3)

Selanjutnya, dari pemikiran saya sendiri:
16. Olahraga. Olahraga menjadi gaya hidup uatama masyarakat Denmark. Olahraga adalah kebutuhan primer. Selain tempat olah raga berbayar yang menjamur diseluruh penjuru, terdapat juga fasilitas olah raga gratis di beberapa taman.

17. Pangan organik. Masyarakat Denmark sangat peduli dengan makanan organik. Mereka biasa mengonsumsi makanan segar, mulai dari sayur, daging, maupun ikan. Untuk itu tingkat kesegaran, tanpa bahan pengawet dan residu pestisida menjadi perhatian utama. Harga antara makanan yang organik dan yang tidak pun tidak jauh berbeda (jika untuk konsumsi seorang diri, kadang lebih baik membeli yang organik karena dengan kualitas lebih baik, kita tidak perlu membuang lebih banyak makanan karena tidak sanggup menghabiskannya).

18. Website kece untuk segala keperluan anda. Kenal momondo dong? Website yang membandingkan harga tiket pesawat dari beberapa travel agen di internet. Itu buatan Denmark, namun sekarang sudah dibeli Amerika. Ada juga DBA, tempat jual beli barang bekas dan barang baru, hanya ada dalam bahasa Denmark, tapi bisa digunakan dengan bantuan google auto translate. PAKKE.dk, website yang membandingkan harga pengiriman barang maupun dokumen dari beberapa perusahaan logistik seperti postnoord, DHL, dan UPS. Sistemnya terlacak dan pasti menawarkan biaya yang paling murah. Barang yang mau dikirim akan diambil ke alamat yang kita daftarkan. Minetilbud.dk, website untuk semua brosur elektronik dari segala macam toko. Sebelum belanja, kita bisa ngintip dulu di toko mana lagi diskon apa. Jadi lebih mudah kan.

to be continued...

*feel free to add in comments below...

Monday, 6 March 2017

What makes Denmark the Happiest country? (2)


6. W+D: Perpustakaannya terjangkau dan baik dan bagus. Perpustakaan tersebar hampir di setiap kelurahan. Jam bukanya tidak sedikit yang sampai malam. Ruang belajarnya nyaman, tidak hanya untuk dewasa, tapi juga untuk anak-anak. Fasilitas di perpus pun lengkap, mulai dari sarana untuk mencetak dan menscan tanpa harus colok USB; cukup upload dokumen, beri perintah berapa salinan, akan diprint di perpus mana, datangke perpus, gesek kartu kuning di printer, dan voila! You get what you ordered.

What makes Denmark the Happiest country? (1)

Hari saat aku kecopetan di metro di Copenhagen, sore harinya aku (D) dan Woro (W) jalan kaki ke halte bis untuk pergi makan di Manfred. Sambil jalan, aku bertanya ke Woro, apa sih yang bikin Denmark menjadi negara yang paling membahagiakan? Ya daripada mengutuk dan menyesali kesialan hari itu kan lebih baik melihat dunia dari sisi yang lebih Indah. Kami sepakat untuk menyebutkan secara bergantian, hal-hal yang (mungkin) hanya bisa kita dapatkan di Denmark, yang membuat negara ini terpilih menjadi negara paling membahagiakan di dunia.

Wednesday, 15 February 2017

Kecopetan

Memang ibukota dimana-mana sama saja.

Sudah cukup sering juga sih aku mendengar kasus orang kecopetan di Copenhagen. dan alhamdulillah hari ini aku merasakannya.

Baru kemarin persis aku diingetin sama orang KBRI untuk berhati2 di Milan dan Roma nanti kalau kesana karena banyak copet, lha kok hari ini abis dari Konsular Itali aku malah kecopetan.

Jadi ceritanya, berangkat dari rumah udah agak siang, mau langsung ke konsuler Itali. Dari terakhir hujan salju, aku masih pakai raincoat untuk tas aku. Tapi hari ini cuaca cerah sekali. Aku pikir, aneh kali ya kalau pakai rain coat terus. Jadi raincoatnya aku buka, masukin ke tas. Berangkatlah aku ke konsuler Italy naik bus.

Teng teng teng... urusan di konsuler Itali beres, lancar. Aku langsung menuju kampus. Dari Strøget aku jalan kaki ke stasiun metro Kongen Ny Torv. Naik metro menuju Forum. Turun di Forum, aku keluar lewat jalan bawah tanah yang tembus Rema. Di pintu, papasan sama 2 laki-laki. Entah. Naik tangga. Sampai depan Rema 1000, ada mbak-mbak naik sepeda dari arah berlawanan, manggil, "mbak, ada yang jatuh tuh" (pakai bahasa yang ku tak mengerti, tapi dia nunjuk sesuatu di belakangku). Aku nengok dan melihat ada dompet aku jatuh. "Thank you", ku bilang ke mbaknya.

Aku ambil dompetku, kartu lengkap. Cash kosong. Tas kebuka. Laptop aman. Ku ingat-ingat.. sepertinya aku punya cash sekitar 3000 dkk (hasil penjualan 2 sepeda dan beberapa orang yang bayar hutang dalam cash) dan 25 euro (yang dulu dikasih ayah). Alhamdulillah, Allah mengingatkan aku untuk lebih berhati hati lagi. Padahal baru minggu lalu juga aku mendapati sepedaku yang satu hilang dari basement. Rejeki rejeki.. Untung bukan punyaku.. Hanya titipan Allah.. Semoga yang nyopet dan ngambil sepedaku memang membutuhkan dan tidak digunakan untuk maksiat. Aamiin..

Pelajaran yang dapat diambil hari ini adalah lebih baik pakai raincoat untuk mengamankan tas dari pada kecopetan. Lebih baik kelihatan gak trendi daripada kehilangan 3000dkk. Apalagi sekarang aku bepergian dengan kendaraan umum, gak naik sepeda lagi.

Semoga Allah selalu melindungiku dan keluargaku. Aamiin.. YRA..