Kamis, 19 Januari 2017

Gamelan by PPI Denmark

PPI were asked to perform Gamelan under Bapak Diran direction at Pak Awang Painting Exhibition.

We are going to perform 3 songs, those are Kebo Giro, Gugur Gunung, and Serayu. Below are the lyrics.

Kebo Giro is a instrumental song that usually used to open a ceremony, usually a Javanese wedding.

Gugur Gunung (for reference)
Ayo (Ayo)
Konco (Konco) 
Ngayahi karyaning projo
Kene (kene)
Kene (kene)
Gugur gunung tandang gawe
Sayuk sayuk rukun
Bebarengan ro kancane
Lilo lan legowo 
Kanggo kamulyaning projo
Siji (loro)
Telu (papat)
Maju papat papat
Diulang ulungake
Amrih enggal rampunge
Holobis kuntul baris
Holobis kuntul baris
Holobis kuntul baris
Holobis kuntul baris

Lancaran serayu (for reference)
Adhuh segere banyune ing sendhang
Ilang kesele wis mari ra mriyang
Banyune bening ngenemke ati
Uger ra lali mring tindak kang suci

We are not professionals, but at least we are trying our best to introduce and conserve our culture abroad. The formation are:
Gendang: Pak Diran
Bonang barong: Uda Reki
Bonang penerus: Ekky Tamaran
Demung: Dwi Larasatie Nur Fibri
Saron: Hanum/Bu Kusmiyati
Peking: Listya
Kenong: Dyana Wijayanti
Slenthem: Hanum
Gong: Woro Rati Bawono




Kamis, 12 Januari 2017

Lingkungan Lingkaran

Sudah jam 10 dan saya belum bisa konsentrasi memulai pekerjaan. Ini gak efektif blas! Saya masih kepikiran tentang lingkaran relatif. Manusia itu terbentuk tergantung dengan lingkungannya ya.. Saya dari sejak pertama kali masuk sekolah, teman saya kebanyakan berjenis kelamin laki-laki. Tapi saya tahu benar batasan hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam koridor Islam. Itu value yang saya pegang, dari dulu.


Seperti gambar ini. Misal kita analogikan lingkaran yang di tengah itu adalah hubungan pertemanan antara dua manusia berbeda jenis kelamin. Jika dibandingkan antara gambar 1, 2, dan 3, tiga lingkaran yang di tengah itu berukuran persis sama besar. Namun jadi relatif terlihat berbeda ukuran karena lingkungannya. Begitu pula sebuah hubungan antara dua manusia yang berbeda jenis. Nah, ketika kita bicara lingkungan, ini merupakan konteks. Seumur perjalanan hidup saya di luar negeri, orang tidak pernah ambil pusing tentang hubungan antara dua manusia berbeda jenis kelamin. Menurut mereka biasa-biasa aja. Gak ada yang aneh dan mencurigakan. Jika dianalogikan lingkaran yang di tengah itu adalah hubungan pertemanan antara dua manusia berbeda jenis kelamin, maka di lingkungan yang setara pemikirannya, lingkaran yang di tengah itu tidak terlihat berbeda. Biasa saja. Gak ada yang spesial dan gak ada yang perlu dicurigai (gambar 3).

Dua gambar di sebelah kiri, lingkaran yang di tengah adalah sama persis dan sama besar dengan gambar paling kanan, namun karena lingkungannya memiliki pemikiran yang lebih cupet, maka lingkaran yang di tengah menjadi terlihat aneh, berbeda, dan menonjol (entah terlihat lebih kecil atau lebih besar). Padahal sama saja.

Kesimpulan pelajaran yang dapat diambil antara lain:

  1. Berhati-hatilah dalam memilih teman. Jangan pilih atau jangan berada di lingkungan cupet.
  2. Jika anda terpaksa berada di lingkungan yang cupet, jangan jadi cupet juga cara berpikirnya. Kalau mau ambil jalan mudah dan cepat, ya jagalah jarak supaya tidak berbeda. Kalau mau anti main stream, ya berusahalah mendidik lingkungan sekitar supaya gak cupet. Caranya dengan memperlebar arus komunikasi.  
  3. Hal ini berlaku juga dalam pandangan lain. Dalam kasus blog ini diambil perspektif hubungan pertemanan.

*Draft blog yang sudah sangat lama, namun belum sempat diunggah


Rabu, 11 Januari 2017

Ujian: Materi ikhlas

Kalau kita berbuat baik terhadap seseorang, diluruskan lagi niatnya.. Kita berbuat baik karena dia sudah baik kepada kita, atau karena kita berharap dia berbuat baik pada kita, atau karena ikhlas lillahi ta’ala?

Ikhlas itu ilmu paling tinggi. Pelajarannya seumur hidup. Ujiannya tidak mudah. Jadwalnya datang tak tentu.

Kalau kita berbuat baik sama orang baik, ikhlas itu (mungkin) mudah. Tapi kalau ada orang yang (sebenernya mungkin dia) baik, tapi dia tidak bisa menghargai orang lain dengan baik, terus kita sudah terlanjur berbuat baik sama dia….

Ya seharusnya saya ikhlas membantu dia. Toh untuk mempermudah hidup saya sendiri. Tapi seharusnya ikhlas saya diiringi dengan tidak perlu berharap orang itu untuk bersikap baik sama kita atau bisa menghargai kita seperti yang kita harapkan karena ini justru akan menimbulkan kekecewaan dan kekecewaan ini akan mengurangi keikhlasan. 


Seharusnya kalau memang kita ikhlas lillahi ta’ala, gak peduli orang itu mau kayak gimana, mau baik, mau gak baik, mau bisa menghargai orang lain ataupun tidak, mau gayanya sopan, mau gayanya songong, ya kalau kita ikhlas berbuat baik ya harus IKHLAS. Titik.

Rabu, 14 Desember 2016

EUROSENSE 2016, Dijon, France

Sejak tanggal 11-14 September 2016 kemarin, saya menghadiri seminar Eurosense ke-7 di Dijon, Perancis. Selama 3 hari ini saya menampilkan poster yang berjudul Product Information affects perception of Sensory, collative properties and elicited emotion of Indonesian Tempe. Pada hari ketiga, saya mempresentasikan poster saya ini selama satu jam. Senang sekali melihat banyak orang yang tertarik dengan penelitian saya.

Jumat, 16 September 2016

Snorkeling: Now I know another function of our saliva!


Minggu lalu, saya mengikuti kegiatan sosial bersama teman-teman dari satu section berkunjung ke akuarium Øresund, mencari lumba-lumba dan ikan hiu di laut dengan kapal cepat, serta menyelam (snorkelling) melihat keindahan bawah laut. Begitu sampai, kami dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok 1 ikut naik kapal cepat terlebih dahulu baru snorkelling. Kelompok 2 kebalikannya. Saya ikut kelompok 1. Sebelum naik kapal, kami harus menggunakan rompi pengaman yang akan menjadi rompi pelampung jika sensor terkena air. Jika dalam 10 detik rompi pengaman tidak mengembang, maka kita bisa menarik tali secara manual dan pelampung akan mengembang. Kami menaiki kapal dengan 2 motor yang bisa mencapai kecepatan 70 knot. Sayang sekali saat itu kami tidak dapat melihat satu ekor pun ikan yang berenang di atas. Tapi saya menikmati saat meminum kopi sambil makan kue brownies di atas kapal sembari berburu, melepaskan pandangan ke laut lepas mencari ikan lumba-lumba ataupun ikan hiu.

Tiba di darat, kami langsung makan siang dengan bekal sandwich yang sudah disiapkan oleh Belinda dan Charlotte sebagai panitia. Selesai makan siang, kamipun berganti pakaian untuk snorkeling. Perlengkapan untuk snorkeling antara lain: wet suit yang terdiri dari 2 bagian (celana terusan hingga badan tanpa lengan dan jaket lengan panjang dengan penutup kepala), kacamata masker yang menutup hingga hidung, tabung untuk bernapas dengan bagian yang harus digigit sehingga tidak mudah lepas, sepatu boot, dan sepatu katak (fin). Wet suit memang seharusnya melekat dengan badan agar menginsulasi suhu tubuh dengan sempurna. Jadi kita gak kedinginan meski menyelam dan bermain air lama. Namun memakai wet suit itu juga tidak mudah karena ngepres body banget dan bahannya tebal. Butuh perjuangan untuk menggunakannnya. Tips untuk pakai bagian celana adalah dengan menggerakkan kaki naik turun sambil miring-miring. Pikir sendiri ajalah kalau bingung. Yang penting kepakai. Untuk bagian jaket, selamat berjuang! Tips untuk melepaskan adalah dengan minta bantuan teman menarik baju. Itu jauh lebih mudah. Setelah berpakaian, kami keluar dari ruangan dan mendapatkan pengarahan dari pemandu. Setelah memakai boot, memilih sepatu katak dan masker yang sesuai, kami berjalan kaki menuju pantai.  Tiba di pantai, kita harus menuju tempat dengan kedalaman minimal se-udel (belly button). Lalu kita pasang sepatu katak. Cara memasang sepatu katak adalah dengan menaikkan salah satu kaki ke paha kita dan sedikit menunduk/ seperti posisi duduk di kursi, lalu pasang sepatu katak. Tips ini saya dapat dari Anne-Marie yang sudah biasa menyelam (diving). Sebelum memasang kacamata masker, kita harus bersihkan kacamata supaya tidak berembun. Tipsnya adalah dengan menggunakan air ludah! Ha?! Iya, dengan ludah. Dan saya tidak bisa meludah. Akhirnya pakai ludahnya Anne-Marie. Hahahaha…. Tenang, kan abis itu dibilas pakai air berkali-kali… Dan memang cara itu manjur. Setelah set semuanya, kita dibiarkan bereksplorasi di bagian cetek. Aku lihat kepiting kecil. Ikan-ikan kecil dibalik rumput laut. Seneng banget!! Pasti lebih indah menyelam di Indonesia pikirku. Begitu kita merebahkan tubuh, kita akan otomatis mengapung karena wet suit kita membuat kita mudah mengapung. Bagian paling sulit justru ketika harus bangun. Karena sepatu katak justru memberikan gaya balik yang membuat kita susah berdiri. Dan saya selalu saya tersedak ketika harus bangun karena air masuk ke dalam selang dan saya sudah kehabisan napas untuk bisa menyembur selang. Hanya butuh latihan untuk menjadi mahir dalam hal ini. Saya tanya sama pemandunya bagaimana teorinya supaya bisa bangun dengan mudah, dia bilang gak ada teori, latihan aja. Hedeeeh… Selamat lah saya.

Setelah latihan di tempat cetek, saya penasaran pengen lihat ke tempat yang agak jauh, tapi saya takut karena masih amatir banget. Eh, pemandunya baik hati mau mengantarkan saya melihat ke tempat yang jauh. Dan dia sabar banget ketika saya dua kali minta naik karena air masuk ke dalam selang dan saya masih gagal menyembur. Udah disembur, tapi kayaknya semburan saya kurang kuat, jadi tetap masuk airnya. Hahahaha… Saya harus belajar lagi. Saya seneng banget bisa mencoba snorkeling meski masih bergantung sama orang lain. Kalau ada kesempatan lagi, saya mau lah lihat keindahan bawah laut Indonesia. Harusnya snorkelling di Indonesia juga pakai wet suit ya? Gak tahu sih.. saya belum pernah. Tapi wet suit yang kemarin dipakai juga buatan Thailand kok.

Setelah selesai snorkelling, kami mandi membersihkan badan dari air laut yang lengket karena garam. Lalu segera pulang kembali ke Copenhagen. Terimakasih teman-teman untuk hari yang menyenangkan.


Rabu, 24 Agustus 2016

Teori Pembenaran: kenapa orang yang hidup sendiri cenderung menjadi gendut?

Makan adalah kebutuhan fitrah manusia. Makan ini merupakan sebuah proses budaya yang dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya kondisi kontekstual. Variabel dari kondisi kontekstual ini diantaranya adalah lingkungan yang terdiri dari beberapa faktor seperti faktor fisik, budaya dan social, usaha untuk mendapatkan makanan, pilihan, kemudahan, lingkungan fisik, commensality/kebersamaan, dan pelayanan (Meisselman, 2008). Semua faktor ini mempengaruhi persepsi sesorang akan makanan, pemilihan makanan dan bagaimana seseorang menikmati makanannya. Namun saya tidak akan membahas satu per satu di sini. Saya akan mengulas efek betapa pentingnya kebersamaan. Karena manusia sejatinya adalah makhluk sosial. Jika manusia dewasa hidup sendiri, kemungkinan atau resiko dia menjadi gendut menjadi lebih besar. Mengapa? Karena…

Visit to Kristianstad University, Food and Meal Science Program

Yesterday, my section, Food Design and Consumer Behaviour visited Food and Meal Science Program at Kristianstad University. We (17 people) went from our campus by bus at 08.05 and arrived at 10.10.
Food and Meal Science, Kristianstad University

Shohibul Kuliner Prajab CPNS 2016

Alhamdulillah saya diberi kesempatan yang luar biasa oleh Allah SWT untuk bisa mengikuti prajabatan pada bulan Juni-Juli 2016. Hari itu saya pulang dari kampus setelah pamitan dengan pejabat Departemen untuk kembali ke Denmark setelah survey penelitian. Dalam perjalanan pulang itu, saya ditelpon oleh pak Biyono dari bagian kepegawaian Fakultas, beliau menawari saya untuk ikut prajabatan yang akan dimulai 4 hari lagi atau 3 hari kerja setelah hari itu, menggantikan orang yang kebetulan sedang berada di luar negeri. Tanpa pikir panjang, saya yakin untuk menerima tawaran tersebut. Kebetulan feeling saya suka kuat, saya memang sudah belanja dan mempersiapkan perlengkapan perang untuk prajab sejak saya datang kembali ke Indonesia.
Hari Jum’at saya diundang pertemuan di Gedung Pusat oleh SDM UGM untuk pembekalan sebelum Prajab, sambil sibuk mengurus perijinan ke supervisor, departemen di Univ of Copenhagen dan mengubah tiket. Singkat cerita, mulailah saya mengikuti Diklat prajabatan di LPMP Jogja di Kalasan pada tanggal 14 Juni 2016, bertemu dengan 79 orang luar biasa lainnya yang sebagian besar berasal dari Jawa Timur.

Senin, 15 Agustus 2016

Bussiness class Qatar

Subhanallah walhamdulillah wa laa illa ha illallahu allahu akbar… (100x)

Mimpi apa saya semalam. Hari ini berangkat dari Jakarta ke Copenhagen naik Qatar dan dua kali di upgrade ke kelas bisnis. Dari Jakarta ke Doha dengan Boeing 787-8 dan dari Doha ke Copenhagen juga dengan Boeing 787-8. Waktu transitt hanya sekitar 30 menit karena pesawat dari Jakarta terlambat. Begitu tiba di Doha, saya segera berlari menuju ke Gate. Gate saya cukup jauh dari tempat kedatangan. Saya tiba di Terminal B dan saya harus berlari ke terminal E4 yang mana itu juauh buanget. Tapi Bandara Hamad sekarang sedang uji coba kereta listrik yang akan membawa penumpang ke lain terminal dengan cepat. Jadi kedepannya kita gak perlu lari2 lagi menuju gate. Alhamdulillah semakin baik saja bandara Hamad ini.

Dalam artikel ini saya akan kembali mengulas sedikit tentang fasilitas yang ditawarkan Qatar pada kelas bisnis, cara bagaimana bisa mendapatkan kesempatan upgrade gratis seperti ini, dan sedikit tips berada di kelas bisnis.

Jumat, 15 Juli 2016

Setrika dengan metode The TUG’s

S-E-T-R-I-K-A adalah momok bagi banyak ibu-ibu. Serius banget! Kalau cucian baju, bisa dikerjakan sekaligus di mesin cuci, tapi kalau setrika itu harus satu-satu. Buang waktu. Panas. Gerah. Lama. Liat tumpukan baju yang belum disetrika itu jadi tekanan batin tersendiri buat banyak ibu-ibu (at least, saya). Beberapa ibu ada yang akhirnya beraliran atau memilih untuk tidak menyetrika baju, langsung melipatnya dan langsung pakai. Namun beberapa ibu merasa kurang sreg dengan metode itu karena merasa baju yang sudah dijemur, terpapar udara, kuman, rasanya kurang nyaman dipakai tanpa disetrika. Solusinya adalah setrika metode The TUG’s.
Dapat salam dari tumpukan baju yang belum disetrika

Sekilas tentang penemu

Namanya TUGIYEM. Kami biasa memanggilnya (mbok)Dhe Tug. Beliau adalah mantan asisten rumah tangga saya yang super sabar (menghadapi saya yang super cerewet, labil dan high expectation), bebel, baik hati, dan ya begitu lah.. Dia tidak lulus SD, sudah sangat berumur, tapi gila kerja. Semua pekerjaan rumah tangga, beuh, beres sama dia. Saya sampai gak kebagian kerjaan sama sekali, padahal saya suka masak. Meskipun begitu, saya sedikit banyak belajar sama beliau. Salah satunya belajar setrika metode ini. Makanya saya kasih nama metode Dhe Tug’s, lalu menjadi The TUG’s alias TUmpuk dan Gosok.